Jl.Sim Blang Bintang , Aceh Besar acehcyberpost181@gmail.com 0812-3223-4990 Aceh Cyber Post

Wednesday, 2 December 2015

"Israel" menemui Google dan YouTube untuk membicarakan sensor atas video Palestina


Wakil Menteri Luar Negeri otoritas Zionis “Israel”, Tzipi Hotovely, telah bertemu dengan perwakilan dari YouTube dan Google untuk membahas cara-cara untuk bekerja sama dalam apa yang dia klaim sebagai perang terhadap “terorisme dan menghasut kekerasan”.

Surat kabar “Israel” Maariv melaporkan bahwa Hotovely setuju untuk bekerja dengan Google dan YouTube untuk membentuk mekanisme kerja bersama untuk memantau dan mencegah publikasi materi yang “menghasut” yang berasal dari wilayah Palestina, lansir MEMO pada Rabu (25/11/2015).

Sejak eskalasi terbaru dari kekerasan antara warga Palestina dan “Israel” yang meletus awal Oktober, banyak orang yang telah menyebarkan video yang menggambarkan agresi “Israel” terhadap warga Palestina. Harian Arab yang berbasis di London, Al-Araby Al-Jadeed telah menyatakan keprihatinan bahwa pertemuan tersebut menyarankan untuk membuat langkah menuju sensor materi yang akan disebarkan oleh warga Palestina di wilayah yang diduduki. (haninmazaya/arrahmah.com)

Barat tercengang, makan menggunakan tangan ala Rasulullah terbukti lebih sehat daripada menggunakan sendok dan garpu


Makan menggunakan tangan tentu terdengar aneh dan primitif serta pasti banyak orang yang merasa tidak tertarik melakukannya. Namun, cara yang disebut “primitif” itu ternyata merupakan cara makan yang lebih sehat, dan percaya atau tidak, cara itu ternyata dapat menjaga kondisi kesehatan Anda.
Demikian situs healthierwayoflife.com pada Selasa (13/10/2015) menyampaikan hal ini sebagai penemuan baru yang begitu mencengangkan.
Padahal terkait sunnah yang satu ini, Rasulullah ï·º sudah mencontohkannya kepada kita jauh-jauh hari: Dari Ka’ab bin Malik dari ayahnya ia mengatakan, “Rasulullah ï·º itu makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilati jari-jari tersebut sebelum dibersihkan.” (HR. Muslim No. 2032 dan lainnya)
Lebih lanjut Healthier Way of Life menjabarkan beberapa manfaat makan menggunakan tangan tanpa sendok dan garpu, yaitu:
Mencegah Diabetes Tipe 2
Orang-orang yang makan dengan cepat beresiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2. Umumnya, jika Anda menggunakan garpu dan pisau maka Anda makan lebih cepat daripada makan dengan tangan Anda. Oleh karena itu, sebisa mungkin akan lebih baik jika Anda senantiasa makan dengan cara “primitif”.
Selain itu, Anda hanya dapat meyuap sepotong irisan makanan ketika Anda makan dengan tangan Anda, sementara jika Anda makan menggunakan garpu Anda, Anda dapat mengambil 5-6 potong sekaligus. Dan, Anda akan makan lebih lambat dengan tangan Anda daripada mengguankan garpu.
Meningkatkan Kinerja Sistem Pencernaan
Ini mungkin terdengar aneh, tapi makan dengan jari-jari Anda dapat meningkatkan kinerja sistem pencernaan juga karena ketika Anda mencuci tangan dengan sabun, semua bakteri jahat dibasmi sedangkan bakteri baik tetap ada di tangan Anda, yang bisa sangat sehat untuk usus Anda.
Selain itu, makan dengan jari-jari Anda bisa mengirimkan sinyal ke otak mengenai makanan yang Anda makan, apakah itu padat atau lembut, panas atau dingin, sehingga mempersiapkan sistem pencernaan untuk mencerna makanan tersebut.
Mencegah Makan Terlalu Banyak
Orang-orang yang makan dengan tangan memiliki berat badan yang lebih seimbang karena mereka tidak makan terlalu banyak. Akan menjadi sangat baik untuk anak-anak, jika orangtua mereka mengizinkan mereka untuk makan dengan tangan saja. Ini dianggap sebagai cara paling aman untuk mempertahankan berat badan normal.
Selain itu, orang-orang yang makan sambil melakukan sesuatu yang lain, seperti menonton TV, akan makan lebih banyak makanan daripada mereka yang fokus duduk dan makan saja.
Ketika Anda makan dengan tangan Anda, Anda tidak dapat melakukan hal lain karena tangan Anda tidak bersih dan atau sibuk. Oleh karena itu, Anda hanya terfokus pada proses makan dan Anda akan tahu berapa banyak makanan yang Anda makan dan kapan saatnya untuk berhenti.
Apa Makna Sunnah Makan dengan Tangan?
Di antara sunnah Nabi ï·º, adalah makan dengan menggunakan tangan kanan dengan tiga jari. Diriwayatkan dari Ka’ab bin Malik, dari bapaknya, beliau mengatakan; “Rasulullah ï·º itu makan dengan menggunakan tiga jari tangan kanan dan menjilati jari-jari tersebut sebelum dibersihkan.” (HR Muslim no. 20232 dan lainnya)
Tentang hadist di atas, Ibnu Utsaimin radhiallahu anhu mengatakan: “Dianjurkan untuk makan dengan tiga jari, yaitu jari tengah, jari telunjuk, dan jempol, karena hal tersebut menunjukkan tidak rakus dan ketawadhu’an. Akan tetapi hal ini berlaku untuk makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari.
Adapun makanan yang tidak bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari, maka diperbolehkan untuk menggunakan lebih dari tiga jari, misalnya nasi. Namun, makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari maka hendaknya kita hanya menggunakan tiga jari saja, karena hal itu merupakan sunnah Nabi ï·º.” (Syarah Riyadhus shalihin Juz VII hal 243)
Sementara itu, dalam sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh Dr Charles Gerba dari University of Arizona dikatakan bahwa kita tidak mungkin menghalangi kuman dan bakteri masuk ke dalam lingkungan kita. Namun kita bisa memerangi kuman dengan cara mencuci tangan setiap sebelum dan selesai beraktivitas.
Dan, seperti dipublikasikan paparetta.wordpress.com, pada bulan Oktober 2010 lalu. Makan menggunakan tangan terbukti lebih menyehatkan. Karena dalam tangan, terdapat enzim RNAse yang dapat mengikat bakteri, sehingga tingkat aktivitasnya sangat rendah ketika masuk bersama makanan ke saluran pencernaan tubuh.
Pada dasarnya, tujuan utama enzim RNAse ini digunakan dalam analisis genetik, dengan tujuan mendegradasi RNA, sehingga yang tinggal dari sebuah sel hidup adalah DNA-nya.
Enzim ini selalu terkandung dalam jari-jari dan telapak tangan manusia, sehingga –dengan asumsi sudah dilakukan upaya menghigieniskan tangan sebelumnya– proses penyuapan makanan ke dalam saluran pencernaan akan mengikutkan enzim yang bisa mengikat sel bakteri agar aktivitasnya tidak maksimal.
Begitu makanan masuk ke saluran pencernaan, maka enzim ini akan ikut mengikat pergerakan bakteri hingga ke saluran pembuangan. Sebaliknya, jika manusia makan menggunakan alat perantara seperti sendok dan garpu, maka tidak ada yang bisa menahan laju aktivitas bakteri yang terkandung, baik di makanan atau alat makan itu sendiri. MasyaaAllah.



Sumber : www.arrahmah.com

Tuesday, 1 December 2015

Di Musim Hujan, 3 Aksesoris Ini Penting untuk Ponsel Anda

MUSIM hujan sudah tiba. Mau tidak mau, musim penghujan membuat kita juga harus sedikit perhatian pada gawai kita. Maklum, ini karena hampir kebanyakan kita sudah begitu terkoneksi dengan gawai atau ponsel pintar. Nah, untuk menjaga gawai kita, setidaknya ada 2 aksesoris yang sepertinya penting Anda miliki di musim penghujan ini.
1. Waterproof Universal Case

Ekonomis bisa digunakan untuk semua handphone dari berbagai tipe ponsel. Ini adalah salah satu aksesoris musim hujan favorit di kala musim hujan seperti sekarang. Dengan banyaknya pilihan warna, waterproof universal case ini bisa disesuaikan dengan gaya Anda sehari-hari walaupun harus mengarungi hujan setiap harinya.
2. Holder Sepeda atau Motor

Jika Anda sering berpergian dengan menggunakan motor atau sepeda, maka aksesoris ini cocok untuk Anda. Didesain dengan model yang praktis dan trendi, holder yang satu ini pastinya cocok untuk Anda yang aktif di jalanan. Khususnya jika Anda pengemudi gojek, holder ini akan banyak membantu. Selain itu, Anda juga bisa melihat jalanan melalui sistem GPS di motor tanpa takut terkena hujan.
3. Armband Waterproof Case

Tidak ada lagi alasan untuk tidak mau berkegiatan di luar ruangan karena sudah memasuki musim hujan. Soalnya dengan armband waterproof case Anda bakalan bisa tetap berolahraga atau berkegiatan di luar ruangan tanpa perlu khawatir memikirkan gawai Anda. Nah, bagaimana? []
Referensi: http://www.laku6.com/blog/aksesoris-wajib-pengguna-hp-di-musim-hujan/

Ini Dia 21 Adab Berdoa



BERDOA memiliki artian yang sangat penting yaitu meminta kepada Sang Pencipta Allah SWT sesuatu yang kita inginkan maka harus sopan dan beradab. Misalkan, kita meminta kepada orang tua, ingin dibelikan baju baru. Jika kita meminta hal tersebut kapada orang tua dengan tidak sopan, apakah orang tua akan memberikannya?
Pasti tidak. Karena orang tua tidak suka dengan sikap kita yang tidak sopan. Dan sebaliknya, jika kitan meminta hal tersebut secara baik-baik, penuh pengormata, dan sopan santun serta tidak memaksa. Maka Insya Allah orang tua akan memberikan baju baru sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Begitupun saat kita berdoa dan meminta kepada Allah SWT. Apalagi Allah-lah Sang Pemilik Kerajaan di langit dan di bumi. Maka harus dengan cara yang beradab. Hal yang paling penting dalam berdoa adalah berserah kepadaNya bukan doa yang memaksa harus dikabul.
Berikut ini adab-adab dalam berdoa atau meminta kepada Allah SWT:
1.Menjauhkan diri dari yang haram, baik itu pakaian, makanan dan sebagainya.
2.Ikhlas semata-mata karena Allah SWT.
3.Berdoa dan bertawasul dengan amal-amal shaleh yang pernah kita lakukan.
4.Berwudhulah sebelum berdoa.
5.Menghadap ke kiblat saat berdoa.
6.Shalat dua rakaat.
7.Memanjatkan puja dan puji kepada Allah SWT.
8.Memanjatkan shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW.
9.Membuka dan mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan pundak lalu mengucapkan doa.
10.Sopan, khusyu, dan merendahkan diri dihadapan Allah SWT.
11.Hendaklah orang itu memohon dengan berbagai asma Allah yang agung.
12.Memanjatkan doa-doa yang diwariskan dan disunnahkan.
13.Mengucapkan doa dengan suara lembut dan sayu.
14.Mengakui dosa-dosanya.
15.Memulai doa dengan mengajukan permohonan untuk dirinya, namun tidak mnegkhusyukan doa tersebut untuk diri pribadi, terutama kalau bertindak sebagai imam.
16.Memeohon dengan tekad bulat, menghadirkan kalbu, dan memurnikan harpannya.
17.Mengulang-ngulang doa dengan sungguh-sungguh.
18.Tidak berdoa tentang hal yang mengandung dosa.
19.Dan jangan bersikap kaku dan mempersempit yang lapang.
20.Mintalah semua hajat.
21.Yang berdoa dan mendengar hendaklah mengaminkan. []
Referensi: Kebahagiaan Kedamaian dalam Islam/Syekh Abdul Hamid Kisyk/Gema Insani Press/1999

Sumber :islampos.com

Pakai Jilbab, Akankah Kurangi Kecantikan Wanita dan Bikin Susah Jodoh?


ADA secuil kekhawatiran dan kebimbangan di sebagian kalangan muslimah. Apakah dengan menggunakan jilbab tidak akan mengurangi kecantikan dan penampilan seorang wanita?
Sesungguhnya, inti rahasia kecantikan bagi seorang wanita bukanlah tatkala auratnya dipertontonkan. Hakikat sebuah kecantikan tidak terletak hanya pada sekadar kecantikan fisik semata. Kecantikan hakiki bersumber dari dalam, dan kecantikan yang demikian lebih asli, laten dan natural sifatnya.
Dia mempresentasikan kepribadian, dan tampilan sebenarnya. Dia lebih bernilai dan bermakna dalam. Dia lebih indah dan mempesona. Dia lebih sederhana sekaligus melegakan. Dia lebih agung dan lebih mulia. Tidak terkesan murahan maupun seronok. Tidak dianggap berselera rendahan serta bernuansa `mesum`. Seperti halnya pakaian-pakaian yang mencuatkan ‘udel’ serta mengumbar warna celana dalam.
Penilaian awal dari seorang lelaki baik-baik, dan memang bermaksud baik-baik pula, ketika ia memandang wanita berjilbab atau menutup aurat, adalah tertangkapnya kesan bahwa wanita tersebut memiliki suatu kepribadian dan punya prinsip.
So, pasti, dia bukan tipe wanita sembarangan atau dapat diperlakukan sembarangan. Poin-nyapun tentu tidak sembarangan. Penampilan seperti ini, justru akan mendatangkan respek dan penghormatan serta pemuliaan.
Apalagi busana muslimah -hari ini- sudah pula mengalami perkembangan dan banyak alternatif keserasiannya. Banyak pilihan warna dan corak sesuai selera, meskipun ada satu prinsip yang perlu diingat, semuanya itu bukan untuk menyombongkan diri atau berbuat riya’ kepada manusia.
Jadi untuk terlihat cantik maupun berpenampilan menarik, tidak perlu harus ‘ngejebreng’, mengobral organ tubuh bagian dalam.
Mempertontonkan aurat yang justru memancing kearah maksiat. Agar terlihat anggun kita dapat saja tetap mengenakan busana muslimah. Tanpa harus mencari-cari alasan yang hanya akan mendatangkan murka Allah SWT. []

Monday, 30 November 2015

Kematian, Perpisahan atau Musibah?

Foto: Hanya Ilustrasi
Foto: Hanya Ilustrasi
SETIAP manusia pasti akan menghadapi kematian. Namun, tempat dan waktu kita akan mati, itu tak pernah kita ketahui. Sehingga, kita harus senantiasa mempersiapkan diri untuk mengahadapi sesuatu yang sudah pasti akan terjadi itu.
Ada yang mengatakan bahwa kematian itu merupakan suatu perpisahan. Namun, ada pula yang mengatakan hal itu sebagai musibah. Manakah yang benar?
Kematian pada lahirnya adalah kehilangan jiwa. Tidak ada kematian kecuali sesudah adanya kehidupan. Adakalanya kematian datang mendadak tanpa didahului gangguan fisik. Misalnya, seorang yang sedang duduk-duduk bersama kawan-kawannya, tiba-tiba dia mati tanpa dipukul atau diganggu tubuhnya oleh orang lain. Inilah yang disebut kematian.
Sedangkan bila kematian itu disebabkan karena tubuhnya diganggu (disakiti), itu yang dinamakan pembunuhan. Di dalam al-Quran, keduanya dipisahkan.
Allah SWT berfirman, “Muhammad itu hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlaku sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jiwa dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad),” (QS. Ali Imran: 144).
Bagi orang yang beriman, kehidupan di dunia ini bukanlah tujuan akhir atau kekal. Karena sebelum manusia menjalani kehidupan, mereka telah diberi pengertian dan kesadaran tentang kematian.
Seperti halnya dalam firman Allah SWT, “Mahasuci Allah yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya,” (QS. Al-Mulk: 1-2).
Jadi, Allah telah menerangkan soal kematian sebelum kehidupan. Selama kita menyadari bahwa kematian itu merupakan tujuan hidup, sulit dikatakan perpisahan.
Selama yang mati itu orang yang kita sayangi, kitalah yang berpisah darinya, jadi perpisahan bukanlah suatu musibah. Kalau orang yang berpisah itu dapat berlaku sabar, dia akan memperoleh pahala. Bila tidak, lalu ia mengerjakan hal-hal yang dilarang agama, perbuatan itulah yang dinamakan musibah karena telah merugikan dirinya. [Sumber: Anda Bertanya Islam Menjawab/Karya: Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi/Penerbit: Gema Insani Jakarta (2007)]


Sumber:Islampos.com

Penulis

Followers

Popular Posts

Al-Qithar. Powered by Blogger.

Translate