Jl.Sim Blang Bintang , Aceh Besar acehcyberpost181@gmail.com 0812-3223-4990 Aceh Cyber Post

Wednesday, 4 November 2015

Menikah Tak Cukup Bermodal Cepat

Oleh: Mawar Dani, Pegiat Tulis Berdomisili di Asahan, Berjuang Memuliakan Hidup Melalui Jejakan Pena
Cintakah yang membuatnya membiarkan luka itu menimbun airmata?
AKU baru saja mengecek file dokumen yang akan segera dikirim ke pusat. Jam masih lumayan pagi, beberapa hari ini matahari sudah tampak tersenyum menyapa kampung kami. Maklum, beberapa waktu terakhir asap memang menyelimuti hari yang kami jalani.
Mataku yang sudah mulai bermasalah dengan jarak pandang jauh menjadikan diri sebagai orang yang semakin cuek dengan lingkungan. Aku mendengar suara kereta – sebutan untuk sepeda motor bagi orang Medan – berhenti di parkiran kantor yang tak seberapa luas. Aku sempat melirik sekilas, lalu menundukkan pandangan. Khawatir jika tamu itu tersenyum, namun karena pandangan yang kurang jelas ini hanya berbalas tatapan wajahku yang jutek.
Semakin dekat aku mendengar langkah itu masuk. Ah, ternyata dia teman sekolahku, sejak SD hingga SMA satu kelas. Anaknya kini sudah dua. Dia menikah ketika aku masih menjalani semester tiga masa kuliah.
“Ada apa, Lis?”
“Aku mau minta buatkan surat talaq, bisa?”
Aku menggelengkan kepala. Sebenarnya masalah ini sudah kudengar dua tahun lalu.
“Aku panggil Ibu saja ya.” Maksudnya memanggil Ibu yang senior bekerja di kantor ini.
Dua anaknya terlihat sehat dan lincah. Aku bahkan gemas dengan anaknya yang kecil, badannya begitu montok, mirip dengan bintang iklan sufor.
“Ada masalah apa?” tanya Bu Boru.
KUA bukan hanya menangani masalah pendaftaran nikah, di sini juga terdapat BP4 yang mencakup ruang lingkup menangani perselisihan keluarga. Memang lebih baik menceritakan masalah pada tempatnya agar tidak timbul masalah baru.
“Aku mau cerai, Bu. Bisa minta buatkan surat talaq?”
Lalu Bu Boru menjelaskan, bahwa kami tidak menangani mengenai perceraian. Hanya membantu mencari solusi terhadap pernikahan yang sedang dilanda masalah.
“Masalahmu sebenarnya apa? Mungkin kita bisa cari penyelesaian yang lebih kekeluargaan sifatnya.”
Lisna, nama temanku tadi, menceritakan bahwa suaminya sudah sering melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Sering keluar malam untuk minum maupun judi. Pulang menjelang subuh sehingga siang hari dijadikan sebagai waktu beristirahat.



Sumber : www.islampos.com

Tuesday, 3 November 2015

Bebeb, Ay Leuv Yu!

Oleh: Widianingsih, Penulis Memeluk Buah Hati seperti Rasulullah
“THANKS ya Beb, udah perhatian banget sama istri ngasih kejutan Ulangtahun”, kicau temannya di medsos.
“Ayang, titidije ya, makasih banget bunganya, sama waktunya udah nyempetin nganter istrimu ini shoping“, tulis teman lainnya.
“Aku bahagia banget cinta, punya suami kayak kamu yang selalu memberi hadiah istimewa saat anniversary pernikahan kita”, tak kalah teman lain ungkap hal serupa.
Ia termenung. Suaminya begitu menyebalkan. Teman lain beruntung punya suami yang romantis. Setiap saat upload foto bersama. Mereka nampak bahagia. Sedangkan ia hanya memandangi tumpukan baju kusut siap setrika menggunung dihadapannya.
Ingin rasanya berteriak. Suaminya begitu buruk dibenaknya. Ia tak pernah sekalipun merasakan diperhatikan sedemikian heboh seperti yang ditulis rekan rekannya.
Ia menghela nafas. Namun tetap melanjutkan sisa pekerjaan yang menantinya sedari tadi. Walaupun ia merasa menjadi istri yang paling tak bahagia, tapi ia tetap menjalankan kewajibannya.
Mungkin bukan hanya ia yang mengalami hal itu. Sedih, merasa tak beruntung, malah merasa bernasib buruk memiliki suami yang tak bisa seromantis suami temannya.

Tapi apakah rumah tangga akan bahagia hanya jika memiliki suami romantis? Saya jadi teringat salah satu film Korea yang berjudul “Marriage not Acting”. Pasangan suami istri dalam cerita itu selalu upload foto romantis, berduaan, jalan-jalan, makan-makan, semuanya dibagikan di media sosial.
Semua keluarga maupun teman ngiri atas pernikahan mereka. Seolah-olah pasangan ini adalah pasangan paling romantis di zamannya. Namun tahu kah teman, itu semua hanya akting. Setiap saat pasangan ini kerap berseteru, bahkan parahnya masing- masing mencintai orang lain.
Jadi, apakah rumah tangga akan bahagia jika suami atau istri romantis? Belum tentu. Karena menikah bukan hanya urusan apakah pasangan ingat tanggal pernikahan atau tanggal lahir pasangan. Ataukah bahkan mungkin kita menikah hanya ingin punya supir pribadi yang siap antar kemana saja istri mau pergi?. Bukan, bukan seperti itu kawan.
Pernikahan akan bahagia hanya jika suami atau istri mencintai pasangan dengan segala kelebihan dan kekurangan. Tentu, bukan cinta karena fisik belaka, atau bahkan cinta uang semata. Karena itu semua ada masanya.
Memiliki suami atau istri tak romantis bukan akhir sebuah pernikahan. Coba renungkan, saat kita kecewa atau sedih, bayangkan betapa suami atau istri memiliki banyak kelebihan juga kebaikan yang membuat hati jatuh cinta.
Masihkah mengeluh, berharap pasangan romantis? Stop kawan, karena menikah bukanlah akting, menikah adalah ibadah, yakinlah tak ada yang sia-sia dihadapan Allah. Jika suami atau istri masih taat menjalankan perintah Allah, tetap dijalan yang Allah ridhoi, maka mari berbahagialah. Tak perlu memaksanya mengucap Bebeb, Ay leuv yu, setiap waktu. []


Sumber : www.islampos.com

Inilah Waktu yang Paling Tepat untuk Minum Air


MINUM saat sedang makan bukanlah kebiasaan Rasulullah SAW, terlebih jika air itu masih panas, atau air dingin seperti es, dan air yang mengandung gas.Kebiasaan seperti itu sangatlah jelek. Karena hal itu akan menyebabkan lambung membutuhkan waktu yang lebih lama untuk proses pencernaan, sehingga harus mengarahkan upaya yang lebih besar dari kemampuan yang dimilikinya.
Minum sesaat setelah makan atau sebelumnya, dan sesaat setelah makan buah-buahan, tidaklah dianjurkan. Berikut penjelasannya.
1. jika kita minum sesaat setelah makan akan berakibat memperlambat proses pencernaan dan mengurangi tingkat konsentrasi organ pencernaan, yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampuannya dalam mengolah makanan. Dengan demikian, proses pencernaan makanan pun akan berlangsung dalam waktu yang lebih lama. Karena itu, dianjurkan untuk menunda minum, agar organ pencernaan dapat berkonsentrasi sesuai dengan jumlah makanan, dan dapat membantu mempermudah proses pencernaan. Waktu yang paling tepat untuk minum adalah satu jam setelah makan.
2. Jika kita makan sebeum makan. Di antara hal yang dapat mengurangi nafsu makan adalah meminum secangkir kopi, atau segelas air sebelum makan. Selain itu, seseorang juga dianjurkan untuk tidak minum air teh baik sebelum maupun sesudah makan karena hal itu akan mengurangi jumlah lendir yang berfungsi untuk mencerna makanan. Sejumlah studi dan penelitian membuktikan bahwa minum teh dapat menghalangi proses penyerapan zat besi dalam makanan. Kondisi demikian bisa menyebabkan seseorang terkena anemia, karena unsur tanin yang ada dalam teh. Adapun waktu yang paling tepat untuk minum air teh adalah, dua jam setelah makan.
3. Sesaat setelah makan buah-buahan. Karena banyaknya zat gula yang terdapat dalam buah-buahan. Jika zat gula itu ditambah dengan air, dapat membuat badan menjadi gemuk. []



Sumber: www.islampos.com - Inilah Makanan Rasulullah SAW/Prof. Dr. abdul Basith dan Muhammad as-Sayyid/Grup Maghfirah Pustaka

Wednesday, 28 October 2015

Avast Pro Antivirus 7



Assalamualimu wr wb lama ya ane kagak ngepeost sofware antivirus hehe nah kali ini langsung saya kasi anti virus yang Pro yaitu avast Pro 7 sapa sih yang gak kenal dengan antivirus ini nah semuah pasti kenal betul antivirus yang populer ini dia unggul dalam segala hal yaitu unggul scan lebih cepat dan sangat ringan wahh pasti kalian bertanya tanya kapanya indonesia bisa membuat antivirus secanggi ini heheh kan udah ada made in indonesia Smadav tapi antivirus ini kurang bisa mengatasi virus besar tapi kalu masala virus virus kecil sih wah smadav jagonya langsung deh hilang eh kok malah bahas smadav hehehe ya avast ini juga mampu bisa membersihlkan sisa sisa file sampah autorn yang gak terpakai dan mampu menghapus virus virus jenis besar lainnya yuk kita langsung liat sceeren Shootnya :


 Download Link








sumber : http://gasasofware.blogspot.com 

Friday, 23 October 2015

DELPHI 7 FULL

Assalamualikum wr wb kali ini saya akan share Sofware Membuat Brogam yang sebelumnya adalah Visual basic 6 nah sekrang ada lagi Prgam untuk membuat suatu aplikasi selain Visual basic 6 yaitu DELPHI 7 Delphi 7 ni sama kegunaannya tapi cara penggunaan lebi sulit dari pada Visual basic 6 karena Delphi 7 ini memiliki fitur fitur yang sangat bagus contonya ada tema dll delphi 7 ini biasanya untuk membuat suatu Progam kecil Yaitu Debit uang Mesin kasir dll Nah yang pengen tau Sceeren Shotnya monggo Di lihat yang tertarik Lagsung Download Saja






DOWNLOAD LINK

sumber : http://gasasofware.blogspot.co.id/

Antara Menulis dan Beladiri Karate

menulis
Oleh: Kayla Mubara, mantan atlet karate, Ibu Rumah Tangga yang bercita-cita menjadi Full Time Writer
APAKAH haram–benar-benar enggak pantas seorang penulis pemula mengumumkan dirinya baru saja menerbitkan buku, menang event, atau tulisannya dimuat media?
Saya pernah membaca sebuah tulisan yang menyebutkan beberapa kesalahan seorang penulis pemula, satu di antaranya adalah gampang mengungkapkan kegembiraan di media. Ada yang menamainya dengan narsis, atau lainnya. Bagi sebagian orang mungkin bisa merupakan branding diri.
Di dunia ini, tidak hanya ada satu macam manusia. Sebab itu, macam pengungkapan rasa gembira pun tentu sangat berbeda satu sama lain. Jika upload foto buku pertama, memajang naskah yang dimuat media merupakan kesalahan, maka saya tidak sepakat dengan opini ini. Bisa jadi yang mengkategorikan pada hal tersebut justru mungkin pernah mengalami hal sama.
Tulisan saya ini mencoba menyikapi dari sudut pandang sebagai manusia biasa. Saya mengkorelasikan menulis dengan seni beladiri karate. Pada hal apa keduanya bisa ditarik benang merahnya? Mari luangkan sebentar untuk membaca.
Seorang yang baru saja latihan karate akan merasa senang jika mampu melakukan Mawashi Geri– tendangan kaki dari samping. Dengan bangga dia bilang pada teman satu angkatan, “Woi! Aku udah bisa Mawashi, lho.” Lalu teman-teman satu angkatan tersebut berdecak, dan mengucapkan selamat. Bagi karateka–sebutan untuk praktisi beladiri karate, yang tingkatan pengetahuan beladirinya lebih tinggi, sabuk hitam misalnya, gerakan itu sudah wajib dikuasai. Akan sangat mungkin jika meskipun namanya sama-sama Mawashi, tapi antara pemula dengan sabuk hitam memiliki gerakan yang berbeda. Ya! Terutama dari segi bentuk, tenaga, dan kecepatan, atau yang sering disebut Kime.
Dari sini akan ada kesimpulan bahwa jika yang merespon berbeda, maka akan memiliki penafsiran tidak sama. Walaupun ada satu aturan sama.
Seorang penulis pemula begitu senang di awal-awal tulisannya dimuat antologi indie. Yang bila dimuat kontributornya membeli bukunya sendiri dengan harga diskon. Dia memajang e-sertifikat. Menuliskan judul, “Buku Antologi Pertamaku.” Lalu berdatangan komentar yang beda-beda.
Bila sesama penulis pemula ada yang belum masuk kategori, mereka normal-normal saja mengucapkan selamat kepada yang sudah lolos. Tidak jarang ada pula rasa iri positif yang dapat memotivasi untuk terus berusaha tembus atau lolos. Lalu apakah tindakan penulis yang lolos itu bisa dikategorikan kesalahan?
Bagi saya, jawabannya adalah T-i-d-a-k, atau bisa juga Y-a!
Jawaban Tidak, apabila upload foto memang untuk branding diri, satu bukti bahwa dia bersungguh-sungguh hingga mencapai satu pencapaian. Hal ini tentu akan diikuti dengan usaha-usaha lain dan pencapaian lain yang lebih. Dibuktikan pula dengan keberlanjutan dalam berkarya, belajar, menulis, dan menulis.
Jawaban Ya, jika bertujuan untuk sombong, merendahkan orang lain, apalagi terbukti hanya sampai di situ saja usahanya. Tidak ada kelanjutan, dan tidak ada perbaikan yang dilakukan.
Seorang atau penulis yang sudah memiliki banyak buku dan seorang yang baru saja belajar EYD, tentu akan berbeda melihat si penulis lolos antologi tadi. Sama persis ketika seorang karateka pemula dengan Majelis Sabuk Hitam dalam menilai Mawashi Geri.
Kedua hal di atas merupakan pilihan. Setiap pilihan memilik konsekunsi sendiri bagi sang pemilih. Tentukan saja pilihan Anda, dan bertanggungjawablah akan apa yang sudah dipilih untuk dipilah menjadi jalan menuju harapan.
Kembali sebentar ke beladiri karate.
Karateka bersabuk putih, kuning, hijau, biru terkadang lebih terlihat sok-sokan (tidak usah tersinggung bagi yang tidak merasa) menantang teman berduel, bersaing, atau cepat-cepatan melakukan satu gerakan. Mereka begitu sumringah ketika bisa menjuarai satu event bernama Kejurfak (Kejuaraan Antar Fakultas). Sedangkan sabuk cokelat dan hitam, mereka merasa baru saja mempelajari tekhnik, ada banyak hal lain yang belum diketahuinya. Apalagi bagi mereka yang berprofesi sebagai atlet nasional, bukan tidak mungkin ada rasa kurang yang banyak. Entah kurang latihan, kurang membaca, kurang mendalami filosofi dan lainnya. Kenapa demikian? Karena dunia yang dilihat sudah berbeda.
Bila dalam menulis ada yang sok-sokan di awal-awal pembelajaran, saya rasa ini tak ubahnya mirip dengan kondisi si sabuk putih, kuning, hijau, dan biru. Mereka baru melewati beberapa tahap dalam menulis, jika sampai pada posisi sabuk hitam (dalam karate) atau menerbitkan satu buku dalam menulis, barulah sadar, “Oh. Ternyata dunia karate/menulis ini begitu luas. Saya baru saja mengetuk pintunya. Atau malah baru saja berjalan melewati pintu gerbang. Ada banyak hal yang belum saya ketahui.”
Biar … biarkan semua menjalani prosesnya.
Antara menulis dan beladiri karate, menurut saya, sama-sama akan ada seleksi alam. Siapa yang sanggup bertahan, dia yang akan melanjutkan. Dalam melanjutkan pun ada yang lamban, cepat, atau sengaja santai. Dan semuanya memiliki hasil yang berbeda. Lamban dengan hasil maksimal, cepat dengan hasil memuaskan, atau santai dengan hasil yang cukup membuat hati tersenyum. Mereka yang lolos seleksi alam tidak terlalu mempersoalkan bagaimana ributnya dunia menilai pencapaian yang sudah ada. Yang ada dalam benak mereka hanya satu urutan data : berusaha, berdo’a dan pasrah menerima hasilnya.
Jadi,
Jika Anda memajang hasil pencapaian di social media, tidak usah risau dengan penilaian miring, atau kurang pas di hati Anda, sebab yang terpenting apa yang ada dalam peta cita-cita Anda. Dan saran saya untuk Anda yang sudah banyak memiliki karya, mohon berikan tanggapan positif. Bukankah pengalaman mengajarkan untuk berempati, layaknya orangtua yang mencoba memahami anaknya.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberi semangat kepada teman-teman yang tak kenal lelah menebar kebaikan, teman-teman pejuang pena yang berupaya merangkai aksara.

Penulis

Followers

Popular Posts

Al-Qithar. Powered by Blogger.

Translate