Jl.Sim Blang Bintang , Aceh Besar acehcyberpost181@gmail.com 0812-3223-4990 Aceh Cyber Post

Friday, 23 October 2015

Antara Menulis dan Beladiri Karate

menulis
Oleh: Kayla Mubara, mantan atlet karate, Ibu Rumah Tangga yang bercita-cita menjadi Full Time Writer
APAKAH haram–benar-benar enggak pantas seorang penulis pemula mengumumkan dirinya baru saja menerbitkan buku, menang event, atau tulisannya dimuat media?
Saya pernah membaca sebuah tulisan yang menyebutkan beberapa kesalahan seorang penulis pemula, satu di antaranya adalah gampang mengungkapkan kegembiraan di media. Ada yang menamainya dengan narsis, atau lainnya. Bagi sebagian orang mungkin bisa merupakan branding diri.
Di dunia ini, tidak hanya ada satu macam manusia. Sebab itu, macam pengungkapan rasa gembira pun tentu sangat berbeda satu sama lain. Jika upload foto buku pertama, memajang naskah yang dimuat media merupakan kesalahan, maka saya tidak sepakat dengan opini ini. Bisa jadi yang mengkategorikan pada hal tersebut justru mungkin pernah mengalami hal sama.
Tulisan saya ini mencoba menyikapi dari sudut pandang sebagai manusia biasa. Saya mengkorelasikan menulis dengan seni beladiri karate. Pada hal apa keduanya bisa ditarik benang merahnya? Mari luangkan sebentar untuk membaca.
Seorang yang baru saja latihan karate akan merasa senang jika mampu melakukan Mawashi Geri– tendangan kaki dari samping. Dengan bangga dia bilang pada teman satu angkatan, “Woi! Aku udah bisa Mawashi, lho.” Lalu teman-teman satu angkatan tersebut berdecak, dan mengucapkan selamat. Bagi karateka–sebutan untuk praktisi beladiri karate, yang tingkatan pengetahuan beladirinya lebih tinggi, sabuk hitam misalnya, gerakan itu sudah wajib dikuasai. Akan sangat mungkin jika meskipun namanya sama-sama Mawashi, tapi antara pemula dengan sabuk hitam memiliki gerakan yang berbeda. Ya! Terutama dari segi bentuk, tenaga, dan kecepatan, atau yang sering disebut Kime.
Dari sini akan ada kesimpulan bahwa jika yang merespon berbeda, maka akan memiliki penafsiran tidak sama. Walaupun ada satu aturan sama.
Seorang penulis pemula begitu senang di awal-awal tulisannya dimuat antologi indie. Yang bila dimuat kontributornya membeli bukunya sendiri dengan harga diskon. Dia memajang e-sertifikat. Menuliskan judul, “Buku Antologi Pertamaku.” Lalu berdatangan komentar yang beda-beda.
Bila sesama penulis pemula ada yang belum masuk kategori, mereka normal-normal saja mengucapkan selamat kepada yang sudah lolos. Tidak jarang ada pula rasa iri positif yang dapat memotivasi untuk terus berusaha tembus atau lolos. Lalu apakah tindakan penulis yang lolos itu bisa dikategorikan kesalahan?
Bagi saya, jawabannya adalah T-i-d-a-k, atau bisa juga Y-a!
Jawaban Tidak, apabila upload foto memang untuk branding diri, satu bukti bahwa dia bersungguh-sungguh hingga mencapai satu pencapaian. Hal ini tentu akan diikuti dengan usaha-usaha lain dan pencapaian lain yang lebih. Dibuktikan pula dengan keberlanjutan dalam berkarya, belajar, menulis, dan menulis.
Jawaban Ya, jika bertujuan untuk sombong, merendahkan orang lain, apalagi terbukti hanya sampai di situ saja usahanya. Tidak ada kelanjutan, dan tidak ada perbaikan yang dilakukan.
Seorang atau penulis yang sudah memiliki banyak buku dan seorang yang baru saja belajar EYD, tentu akan berbeda melihat si penulis lolos antologi tadi. Sama persis ketika seorang karateka pemula dengan Majelis Sabuk Hitam dalam menilai Mawashi Geri.
Kedua hal di atas merupakan pilihan. Setiap pilihan memilik konsekunsi sendiri bagi sang pemilih. Tentukan saja pilihan Anda, dan bertanggungjawablah akan apa yang sudah dipilih untuk dipilah menjadi jalan menuju harapan.
Kembali sebentar ke beladiri karate.
Karateka bersabuk putih, kuning, hijau, biru terkadang lebih terlihat sok-sokan (tidak usah tersinggung bagi yang tidak merasa) menantang teman berduel, bersaing, atau cepat-cepatan melakukan satu gerakan. Mereka begitu sumringah ketika bisa menjuarai satu event bernama Kejurfak (Kejuaraan Antar Fakultas). Sedangkan sabuk cokelat dan hitam, mereka merasa baru saja mempelajari tekhnik, ada banyak hal lain yang belum diketahuinya. Apalagi bagi mereka yang berprofesi sebagai atlet nasional, bukan tidak mungkin ada rasa kurang yang banyak. Entah kurang latihan, kurang membaca, kurang mendalami filosofi dan lainnya. Kenapa demikian? Karena dunia yang dilihat sudah berbeda.
Bila dalam menulis ada yang sok-sokan di awal-awal pembelajaran, saya rasa ini tak ubahnya mirip dengan kondisi si sabuk putih, kuning, hijau, dan biru. Mereka baru melewati beberapa tahap dalam menulis, jika sampai pada posisi sabuk hitam (dalam karate) atau menerbitkan satu buku dalam menulis, barulah sadar, “Oh. Ternyata dunia karate/menulis ini begitu luas. Saya baru saja mengetuk pintunya. Atau malah baru saja berjalan melewati pintu gerbang. Ada banyak hal yang belum saya ketahui.”
Biar … biarkan semua menjalani prosesnya.
Antara menulis dan beladiri karate, menurut saya, sama-sama akan ada seleksi alam. Siapa yang sanggup bertahan, dia yang akan melanjutkan. Dalam melanjutkan pun ada yang lamban, cepat, atau sengaja santai. Dan semuanya memiliki hasil yang berbeda. Lamban dengan hasil maksimal, cepat dengan hasil memuaskan, atau santai dengan hasil yang cukup membuat hati tersenyum. Mereka yang lolos seleksi alam tidak terlalu mempersoalkan bagaimana ributnya dunia menilai pencapaian yang sudah ada. Yang ada dalam benak mereka hanya satu urutan data : berusaha, berdo’a dan pasrah menerima hasilnya.
Jadi,
Jika Anda memajang hasil pencapaian di social media, tidak usah risau dengan penilaian miring, atau kurang pas di hati Anda, sebab yang terpenting apa yang ada dalam peta cita-cita Anda. Dan saran saya untuk Anda yang sudah banyak memiliki karya, mohon berikan tanggapan positif. Bukankah pengalaman mengajarkan untuk berempati, layaknya orangtua yang mencoba memahami anaknya.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberi semangat kepada teman-teman yang tak kenal lelah menebar kebaikan, teman-teman pejuang pena yang berupaya merangkai aksara.

Thursday, 15 October 2015

Portable Corel DRAW 12


ya sekrang ane sahre lagi yaitu corel draw x12 sofwarenya hampil sama dengan versi versi sebelumnya cuma dia lebi unggu keringannan saja maka yang mau download liat dulu SC nya dan janagn lupa untuk comen terus dan ikuti ikram-cyber yuk kita langsung melihat Sceeren Shotnya






 Download link 4sahread

Download Game Maker Studio Master Gratis Free


assalamualikum wr wb kali ini saya akan berbagi sofware yaitu Game Maker Studio Master Gratis pasti ada yang tau dan ada juga yang belum tau Game Game Maker Studio Master iala sofware membuat game  software yang paling mudah digunakan diantara software lain yang dapat anda gunakan untuk membuat game pada perangkat android (menurut saya), game meker studio juga bisa membuat game android ataupun pc keunggulan game meker studio adalah dibawa ini


1.Game maker studio menggunakan metoda drag n drop. 
2.Bagi anda yang bisa menggunakan bahasa GML (game maker language) anda bisa melakukan edit lebih leluasa. 
3.Tidak seperti software lain, hasil dari game maker studio dapat anda mainkan tanpa limitasi waktu. 
4.Game maker tersedia dua versi yaitu lite dan pro, pada versi lite akan menyertakan logo ketika loading, namun jika anda sedikit kreatif anda dapat mengubah bahkan menghilangkannya dan menjadikan seperti pro version




Sceeren Shoot :




 Download Link :



sumber :http://gasasofware.blogspot.co.id

Sedekah 500 Ribu, Dibayar Enam Juta, Tunai


ALLAH SWT  berjanji dalam Surat: 6 Ayat: 160 balasan 10 x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.
Subhanallah… janji Allah itu telah saya rasakan sendiri. Pada bulan Ramadhan kemarin, saya berpikir untuk membebaskan diri dari finansial yang selalu diberikan orang tua. Bukan karena tak senang diberi, tapi kasihan rasanya jika Abah dan Ibu terus-terusan mengeluarkan biaya untuk saya.
Berpikir! Berfpkir! Berfpkir! Aha… Gimana kalau saya coba berbisnis! Tring tring tring… banyak ide bermunculan untuk memulai bisnis apa yang bisa saya geluti.
Dari kerumunan ide yang berkecamuk, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan bisnis AVAIL yang sempat tersendat selama KKN. Namun yang menjadi masalah adalah, saya tidak punya modal sepeserpun untuk memulai bisnis ini. Jangankan buat modal, untuk sehari-hari saja kadang masih kurang. He…
Ditengah kegalauan itu, tak sengaja saya bertemu dengan Teh Ida, sahabat saya yang sangat mengagumi ustadz Yusuf Mansyur. Kala itu Teh Ida membawa buku karya Ustadz Yusuf Mansyur yang berjudul “Undang Saja Allah”.
Tertarik dengan judulnya, akhirnya saya meminjam buku itu dari Teh Ida dan melalap habis dalam waktu satu hari satu malam.
Satu kata yang masih terngiang dari buku itu adalah “Serahkan semua urusan kepada Allah dan berikan pinjaman yang terbaik kepada-Nya. Maka Allah akan membalas 10 kali lipat kebaikan bahkan lebih”.
Tring!!! Ide kembali menggelayuti fikiran… Saya butuh modal Rp. 6.000.000, berarti saya harus bersedekah Rp. 600.000. Langsunglah saya ke ATM untuk mengecek uang yang tersedia di rekening. Wah… ternyata Cuma ada Rp.500.000 kurangnya Rp.100.000. Gak papa deh, namanya ikhtiar.
Ketika saya kembali ke rumah dan memasukkan uang kedalam amplop, kakak saya bertanya, “Uang buat apa itu?” Saya hanya menjawab, “Buat 5 orang anak yatim, Teh.” Kakak saya hanya tersenyum dan berkata, “Ooooohhh… kalau begitu, nitiplah Rp. 100.000,” sambil mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
Alhamdulillah… Jadi pas deh Rp.600.000.
Tinggal menunggu balasan dari Allah Allah maha cepat perhitungannya, dalam waktu kurang dari 2 minggu Allah membalas sedekah saya 10x lipat menjadi Rp.6.000.000.
Nominal yang belum pernah saya miliki sebelumnya.
Dan perantara ganjaran itu adalah kakek saya yang merupakan seorang pensiunan Pengawas SD, yang jumlah tabungannya cukup banyak dan belum terpakai. Allah menggerakkan hati kakek, sehingga kakek mau memberi uang sebanyak itu untuk saya. Barokallah fii umrik

Masya Allah, Janin pun Bersujud!


DALAM upaya menanamkan kecerdasan si buah hati sejak dalam kandungan, berbagai cara haruslah dilakukan oleh seorang ibu yang sedang mengandung buah hati kesayangannya. Menurut penelitian para dokter Barat, salah satu cara untuk menanamkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan yaitu dengan memperdengarkan musik classic seperti musikMozart kepada janin yang sedang berada di dalam perut ibu.
Lalu bagaimanakan pandangan islam dalam menyikapi hal tersebut?
Dalam agama islam, bayi adalah makhluk ciptaan Allah yang masih suci. Mengenai hal ini, tentunya bacaan Al-Qur’an adalah sebaik-baik lantunan yang harus diperdengarkan oleh janin. Sehingga, Habib Munzir pun menyarankan bahwa istri yang sedang hamil lebih baik banyak membaca Al-Qur’an untuk menuntun kemuliaan di dalam rahim. Utamakanlah membaca surah Muhammad, dengan harapan agar mendapatkan rahmat Allah sebagaimana lahirnya Nabi Muhammad saw ke muka bumi ini dengan membawa segala rahmat-Nya.

Saran habib Munzir tersebut, ternyata didukung oleh hasil eksperimen beberapa dokter. Saat seorang ibu hamil sedang melakukan USG, maka dibacakanlah surah Al-fatihah dan Al-Baqarah. Apa yang terjadi gerangan?Subhanallah, janin tersebut terdiam dan mengambil posisi seperti sedang bersujud seolah-olah ia kenal dekat dengan ayat-ayat yang sedang dibacakan.
Di samping itu, Dr. Nurhayati dari Malaysia mengemukakan hasil penelitiannya tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an terhadap meningkatnya IQ bayi yang baru lahir, dalam seminar konseling dan psikoterapi islam sekitar delapan tahun yang lalu. Diungkapkannya, bayi yang baru berusia 48 jam saja akan langsung memperlihatkan reaksi wajah ceria dan sikap yang lebih tenang.
Untuk itu, kepada ibu-ibu yang sedang mengandung buah hatinya perbanyaklah membaca Al-Qur’an. Karena, jika Al-Qur’an diperdengarkan secara tepat dan benar (tajwid dan makhrajnya) maka Al-Qur’an mampu merangsang saraf-saraf otak pada si kecil

Thursday, 8 October 2015

Setelah Membaca Al-qur’an, J.R. Farrell Putuskan Jadi Muslim



Kehidupan Sebagai non-Muslim
SAYA ingat, sepanjang masa kecil saya. Orang tua selalu berjuang atas masalah uang, situasi hidup dan sejenisnya.
Saya ingat, saat itu saya tinggal di rumah-rumah proyek di sisi Central South of Chicago dengan keadaan yang sangat memprihatinkan, sehingga hampir tidak bisa menemukan sesuatu pun untuk dimakan.
Dengan jumlah anggota keluarga 10 orang, sangat sulit bagi ayah untuk memenuhi kebutuhan keluarga sebaik mungkin.
Broken Home
Ayah saya adalah seorang pekerja keras, meskipun ia seorang peminum berat dan sering memukuli ibu saya, tetapi saya masih mencintai ayah. Ayah saya berasal dari Irlandia dan Jerman.
Setiap kali dia pulang ke rumah dalam keadaan mabuk atau hanya marah tentang sesuatu kepada saya dan adik saya, kemudian ayah berbaring di atas kami sampai ia menyadari apa yang dilakukan.
Banyak sekali kekerasan yang saya alami, bahkan saya pernah tidak bisa berjalan dan bernapas karena semua pukulan yang saya terima dari ayah. Tentu saja saya menjadi orang pertama yang mendapat pukulan ayah, karena  saya adalah anak tertua, kadang-kadang ayah juga menyuruh setiap saudara saya untuk memukuli saya juga. Ini adalah sebagian besar dari masa kecil yang saya alami.
Kemudian datang masa remaja. Dengan segala sesuatu yang telah terjadi di sekitar saya, seperti pacar, teman kencan, boozing, bar, obat-obatan, dll. Saya tidak bisa membiarkan diri saya menjadi bagian dari semua itu. Saya hanya merasa itu tidak benar.
Adik saya adalah salah satu pengedar narkoba terbesar di Chicago. Setiap hari ia akan membawa pulang obat terlarang itu untuk dijual secara lokal.
Adik saya tahu pandangan saya tentang seluruh ide, pernah satu hari ketika adik saya meninggalkan obat terlarang itu di rumah, saya mengambilnya sekitar $ 1,000 obat dan membuangnya ke toilet. Ketika ia menyadari obat terlarangnya hilang, dia langsung menanyakannya kepada saya, akan tetapi saya selalu bersumpah tidak mengambil obat terlarangnya itu, saat itu adik saya ingin membunuh saya, jika ia memiliki kesempatan, pasti saya sudah mati di tangannya. Tentu saja saya adalah orang yang benar, kemudian orang tua saya membawa adik saya keluar, karena saya lebih tua, saya harus mengajarinya menjadi manusia yang lebih baik.
Tidak Ingin Mati Sebagai Orang Bodoh
Yang membuat saya menyadari betapa hidup saya sangat rapuh adalah saya tidak ingin mati menjadi orang bodoh, jadi saya mulai belajar apa saja. Saya tidak bisa berpaling dari buku.
Anda harus menyadari sesuatu tentang keluarga saya, mereka sangat kompetitif terhadap satu sama lain. Begitu mereka melihat orang lain maju mereka selalu ingin menghentikannya dan tidak memungkinkan untuk pergi lebih jauh lagi.[]
BERSAMBUNG

Sumber : OnIslam

Penulis

Followers

Popular Posts

Al-Qithar. Powered by Blogger.

Translate